Sabtu, 05 Februari 2011

Kopi Luwak di Bali

Baru baru ini saya pergi ke Bali, ini merupakan kunjungan saya yang kedua ke pulau dewata. Bagi anda yang pernah berwisata ke Bali, tentu masih ingat diantara banyak obyek wisata yang ditawarkan dan kita kunjungi salah satunya adalah agro wisata kebun kopi, dimana disana kita dipersilahkan mencicipi beberapa jenis minuman kopi. Nah yang ingin saya bahas disini adalah mengenai kopi luwak mereka, karena mereka memberi nama kopi luwak dalam bahasa inggris sebagai "peaberry coffee", saya dengan serius mengulang pertanyaan saya dan mereka dengan mantapnya mengatakan bahwa kopi luwak adalah peaberry coffee, dan mereka memang menuliskan seperti itu pada papan nama mengenaikopi luwak. Bukankah ini dapat menyesatkan para turis, karena kita tahu bahwa peaberry coffee bukan kopi luwak tapi kopi lanang. Saya sebagai pemerhati kopi sangat risau melihat hal tersebut, saya berpikir bahwa para turis yang tidak tahu akan menerima informasi yang salah dan para turis yang tahu akan menertawakan (meskipun dalam hati) hal tersebut. Berikut ini saya kutipkan dua tulisan mengenai "Peaberry" untuk lebih menambah penjelasan mengenai peaberry.

Dari Wikipedia, the free encyclopedia

Peaberry, also known as caracoli, is a type of coffee bean. Normally the fruit of the coffee plant develops as two halves of a bean within a single cherry, but sometimes only one of the two seeds gets fertilized so there is nothing to flatten it. This oval (or pea-shaped) bean is known as Peaberry. Typically around 5% of all coffee beans harvested are of this form.
Normal coffee beans are less commonly called by contrast flat berry
Peaberry coffees are particularly associated with Tanzanian Coffee[1], although the peaberry variety of Kona coffee has also become quite prominent.[2]


by Kenneth Davids

What Are Peaberries?
Peaberries (also caracol or caracolillo, "little snail" in Spanish) result when the coffee fruit develops a single oval bean rather than the usual pair of flat-sided beans. A half-hearted, vestigial crevice meanders down one side of the little egg-shaped beans. Botanists observe that peaberries develop when only one of two ovaries in the flower are pollinated or accept pollination, thus producing one seed rather than two - an only child, as it were, in a species in which twins are the norm. Since Arabica coffee is self-pollinating (the same flower can impregnate itself) excessive peaberry production is a sign of general infertility of the plant. New hybrid varieties of Arabica that introduce genetic material from other species like robusta often produce large percentages of peaberry, for example, though that problem is usually corrected by backcrossing, or reintroducing Arabica material back into the partly sterile hybrid until it behaves normally and produces something close to the normal five percent of peaberry.

Dari dua kutipan diatas dengan jelas dapat diketahui bahwa peaberry coffee adalah biji kopi yang terjadi jika salah satu dari dua biji pada bunga kopi tidak dibuahi pada waktu proses penyerbukan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kopi luwak. Selain penikmat dan pemerhati kopi, saya juga orang yang hirau akan pariwisata, sehingga saya merisaukan jika terjadi kesalahan informasi mengenai sesuatu yang ada pada obyek-obyek pariwisata kita, apalagi di Bali yang notabene merupakan destinasi wisata yang sangat terkenal di seantero jagat. Apakah kekuatiran saya ini berlebihan ? Bagaimana dengan anda sendiri ?


Wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar