Kamis, 30 Desember 2010

Bukan pemerhati kopi

Beberapa kali, sering malah, aku minum kopi di suatu warung kopi atau tempat makan lalu kopinya terasa enak namun waktu ditanya si empunya warung nggak tahu jenis kopi yang dihidangkannya. Sebagai penikmat dan pemerhati kopi aku menyayangkan hal tersebut, namun aku juga menyadari sih tentunya nggak semua orang orientasinya akan kopi sama walaupun sering berurusan dengan kopi. Misalnya begini, orang2 yang mengusahakan warung kopi banyak yang orientasinya hanyalah bagaimana agar warung kopinya ramai dan keuntungannya lumayan. Maka mereka akan berusaha agar kopi yang dihidangkannya digemari pengunjungnya serta dimana dia harus mendapatkan suplai bubuk kopi enak yang harganya cocok untuk mendapatkan keuntungan yang memadai, tanpa merasa perlu mengetahui jenis dan kualitas kopi tersebut,yang penting kopinya laku. Atau banyak juga yang menyediakan kopi enak di warung makannya dimaksudkan sebagai pemancing agar orang berkunjung dan makan di warungnya, atau memang mereka berusaha semua hidangan diwarungnya enak, sehingga merasa tidak perlu tahu detil kopi yang dihidangkannya karena motivasi sebenarnya adalah agar omzet warung makannya besar dan memberikan keuntungan lumayan. Selain yang aku sebutkan diatas tentu ada lagi sebab2 orang tidak tahu atau merasa tidak perlu tahu akan jenis2 kopi meskipun sehari-hari bergaul dengan kopi. Contoh paling sederhana yang ada dilingkunan kita adalah pembantu rumah tangga yang sangat pandai membuat kopi tapi kalau ditanya apa jenis kopinya, dia hanya bisa menyebutkan merk atau malah hanya menyebutkan dimana majikannya membeli kopi tersebut. Berikut ini adalah salah satu rangkaian dari beberapa pengalamanku sehubungan hal tersebut.
Baru saja aku mencoba mengunjungi tempt makan semacam kafetaria yang belum begitu lama dibuka, selain makanan utama kami juga memesan minuman. Karena si empunya kafe menamai warungnya sebagai warung kopi, maka aku memesan kopi aceh yang memang ada dalam daftar menunya. Waktu menikmati kopinya aku merasa kopinya memang enak, sepertinya sedapnya kopi arabika yang dicampur sedikit robusta. Seketika aku ingin tahu apakah kopinya itu kopi Gayo atau bukan, jadi aku bertanya apa jenis kopinya, ternyata baik pelayannya maupun si empunya kafe tidak tahu persis jenis kopinya bahkan balik bertanya apa itu kopi Gayo. Nah, kok kafe yang menyebut dirinya warung kopi dan mulai terkenal ini tidak tahu jenis kopi yang dihidangkannya ? Aku jadi teringat pengalamanku yang lain yang bagiku juga mengherankan.
Beberapa bulan yang lalu dalam kunjungan dinas ke Surabaya, aku sempat minum kopi di salah satu pojokan  di pinggir jalan yang berada ditepi rel kereta api, mendengar posisinya tentu anda juga tahu bahwa ini warung kelas rakyat jelata --nggak perlulah aku cerita kenapa sampai ke warung itu--. Kopinya ternyata sungguh enak, mantabnya robusta sepertinya, untuk memastikannya sambil ngobrol aku tanyakan kepada si pemilik warung yang juga merangkap membuat dan menghidangkan kopi tersebut. Wah, boro2 dia tahu robusta atau bukan, dia malah tidak tahu bahwa ada jenis kopi robusta dan arabika, dia juga tidak tahu pasti asal kopinya dari mana karena ada pedagang yang selalu mensuplai kopinya yang tanpa merk. Nah, bagaimana sih ini ?
Mengenang pengalaman di warung kopi di pinggir rel kereta apiSurabaya itu --dan di banyak warung sejenis-- dan membandingkannya dengan kejadian di kafe yang baru saja kualamiaku --dan di banyak kafe sejenis itu-- membuatku makin yakin bahwa memang benar yang sering kupikirkan mengenai banyak orang yang walaupun kesehariannya berhubungan dengan kopi belum tentu mengetahui seluk beluk kopi. Apakah orang itu terpelajar atau tidak, pejabat atau bukan, kaya atau miskin, kaum elit atau kebanyakan, bisa karena mereka tidak ingin tahu atau merasa tidak perlu tahu atau bahkan tidak begitu perduli, sepertinya bagi mereka seluk beluk kopi tak lebih dari sesuatu yang "emang gue pikirin". Mau gimana lagi ya, sebetulnya sederhana saja, mereka memang bukan penikmat kopi dan juga bukan pemerhati kopi. Intinya, banyak orang yang sehari-hari bergaul dengan kopi tapi tidak tahu ataupun tidak perduli seluk beluk kopi, bagiku merupakan keanehan, sesuatu yang "emang kok gue pikirin". 


Wassalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar