Jumat, 03 Desember 2010

Luwak.....oh Luwak

Baru2 ini aku nglirik salah satu blog mengenai kopi dari Amrik sana, pure coffee blog, si empunya blog dalam salah satu postingannya menceritakan pengalamannya minum kopi luwak. Pada intinya disitu dia menceritakan bahwa rasa kopi luwak tidaklah sebanding dengan harganya, sehingga pada akhir postingannya si Bill ini menyimpulkannya dengan kata2 "my first interaction with kopi luwak proved not as great as I had hoped".
Membaca postingan tersebut mengingatkan pengalamanku sendiri ketika mencoba kopi luwak di salah satu gerai kopi yang menyediakan kopi luwak. Walaupun aku dari dulu penasaran ingin mencoba kopi luwak namun kesempatan tersebut sebetulnya datang secara kebetulan, ketika aku bersama seorang sahabat --halo Purna, kapan kita minum2 kopi lagi di bandara-- sedang berada di bandara menunggu penerbangan Semarang-Jakarta. Pada waktu itu aku melihat gerai kopi yang menyediakan kopi luwak tersebut, dan karena masih ada waktu lebih dari 1 jam menjelang keberangkatan, maka aku memutuskan untuk menunggunya sambil menikmati kopi luwak. Temanku itu bukan penggemar ataupun penikmat kopi, sehingga walaupun dia orang yang secara ekonomi sangat mapan --maaf Pur, aku kok jadi nyeritain kamu ya-- merasa heran juga dengan harga fantastis kopi tersebut, dan lebih heran lagi karena aku kok bersedia merogoh kocek sebesar itu "hanya" untuk secangkir kopi, akhirnya kami memutuskan minumnya satu berdua, karena dia toh tidak terlalu ingin minum kopi seperti aku.  Beberapa saat setelah kami  mencicipi kopi luwak tersebut, temanku itu bertanya "gimana rasanya, apakah ini memang sangat enak ?" Aku jawab bahwa ini memang kopi enak. Sebenarnya yang aku rasakan adalah kopi tersebut memang enak, sedap, tetapi ya enak saja, bukan "jauh lebih enak" dari kopi2 yang lain, bukan. Bener deh, setidaknya bagiku. Aku tuh merasa "takjub" karena tidak menemukan "sesuatu yang sangat berbeda" dalam ke-enak-annya, secara harganya yang mencengangkan itu.
Kita semua tahu bahwa "rasa enak itu relatif", namun rupanya memang ada rasa enak yang yang bisa di "mark up" karena ke-eksklusif-annya, harganya, dan tentu saja juga prestise karena bisa merasakan sesuatu yang eksklusif. Akan halnya aku sendiri, selain merasa takjub seperti yang aku ceritakan diatas, maka aku merasakan adanya sensasi karena bisa menikmati kopi yang konon kabarnya termahal didunia. Tetapi sebagai penikmat kopi sejati tentu saja aku tetap bermaksud akan minum kopi luwak lagi. Segala sesuatu didunia ini tentu ada yang pertamanya, kemudian kedua, ketiga dan seterusnya, iya kan ?

Tips :
Minum secangkir kopi sebelum beraktifitas fisik, semisal beres2 rumah di hari libur,
akan membuat badan tidak cepat lelah.
Minum secangkir kopi sesudah aktifitas pikiran, misalnya menulis makalah,
akan mengurangi kelelahan pikiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar