Selasa, 19 Oktober 2010

Ternyata si item enak banget ya (kenangan kepada kedua orang tuaku almarhum)

Aku mulai tertarik untuk mencicipi kopi waktu masih umuran remaja, masih SMP atau SMA, aku nggak ingat persisnya tapi aku ingat betul latar belakang penyebabnya. Dikeluargaku pada waktu itu ada kebiasaan minum teh sore untuk seluruh anggota keluarga dan kalau pagi minum kopi hanya untuk kedua orang tuaku, kami anak-anak dilarang keras minum kopi, kata mereka "bisa bikin bodoh", alasan nggak masuk akal tapi kok ya kami anak-anak beliau pada waktu itu --aneh bin ajaib--  percaya saja.
Rasa ingin tahuku yang besar --seperti apa sih rasanya si item itu sebenernya kok selalu ada dirumah padahal kita nggak boleh ikut minum-- mengalahkan rasa takut "jadi bodoh". Suatu saat aku melihat pembantuku bikin kopi untuk orang tuaku, trus aku mulai memperhatikan cara-cara dia bikin kopi. Sampai pada suatu hari pas lagi nggak ada pembantu ibuku ngomong : "Kamu udah besar nDang, mulai sekarang cobalah kamu yang bikin kopi buat orang tuamu, sekarang Mami ajarin dulu, perhatiin ya". Nah, aku yang sudah beberapa kali liat pembantu bikin kopi dan yang sudah lama tertarik sama kopi otomatis cepet bisa bikin kopi.
Eiiit nanti dulu, jangan langsung mikir "apa susahnya bikin kopi". Bapakku termasuk rewel -maaf lho Pie ini kenyataan- kalau soal minum teh atau kopi, kalau teh atau kopi yang dihidangkan nggak pas rasanya nggak akan diteruskan minumnya. Teh atau kopi dirumahku ditaruh secara seksama, dalam wadah yang bisa ditutup rapat dan tidak boleh bercampur benda-benda lain karena bau atau aroma benda-benda lain bisa mempengaruhi citarasa teh atau kopinya (aku percaya banget sampe sekarang).
Kembali kekisah bikin kopi tadi, kopi yang kuhidangkan untuk orang tuaku rupanya berkenan dilidah mereka, trus aku sering sekali bertugas bikin kopi buat mereka. Nah aku jadi punya kesempatan mengeksplorasi keinginan tahu ku akan kopi, diam-diam kalau bikin kopi aku tinggalkan barang 3 atau 4 sendok didapur, sesudah aku hidangkan kopi buru-buru kembali ke dapur dan sambil mencuri-curi kunikmati kopi hasil "curian" itu. Namanya juga hasil curian ya, walah rasanya waktu itu nikmaaat bener, nah sejak saat itu aku mulai tertarik pada kopi, dan karena orang tuaku sangat memperhatikan citarasa kopi yang diminumnya maka akupun juga begitu. Makanya aku menyebut diriku "penikmat kopi", bukan pecandu kopi.
Tips :
Simpanlah bubuk kopi dalam wadah yang bisa ditutup rapat,
tidak bercampur benda lain,
bahkan kalau kita punya persediaan lebih dari satu jenis kopi
sebaiknya kita pisahkan juga wadahnya.
Wassalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar